SAROLANGUN - Lahul Harisandi ketua umum Gerakan mahasiswa sarolangun Jambi ( GEMSAR ) melihat banyak perusahaan di Sarolangun yang dianggap tertutup mengenai besaran dana CSR mereka. Berdasarkan data sejarah pembangunan daerah, dari puluhan perusahaan yang beroperasi, hanya segelintir yang rajin melaporkan penyaluran CSR-nya ke Bappeda.
Lahul Harisandi mengatakan Tanpa transparansi, masyarakat tidak tahu berapa hak mereka yang seharusnya dikembalikan ke daerah. Ini membuka celah terjadinya "negosiasi bawah tangan" antara oknum perusahaan dan oknum penguasa.
ketua umum Gemsar Jambi mendesak pemerintah untuk mempublikasikan Rapor Tahunan CSR secara terbuka melalui website resmi daerah agar bisa diawasi langsung oleh publik. Sinergitas yang Lemah
Sering terjadi penyaluran CSR hanya bersifat "pemadam kebakaran"seperti bantuan sembako saat banjir atau sumbangan 17 Agustusan—tanpa ada rencana induk (Masterplan) yang jelas.
Program CSR sering tumpang tindih dengan proyek APBD atau malah tidak menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat sekitar tambang (seperti air bersih atau kesehatan).
Lahul Harisandi ketua umum Gemsar Jambi mendesak Optimalisasi Forum TSLP/CSR Sarolangun agar program perusahaan sejalan dengan prioritas daerah (misal: pengentasan stunting atau beasiswa pendidikan).


