KOTA BOGOR - Perimenopause merupakan fase alami dalam siklus kehidupan perempuan yang ditandai dengan perubahan hormonal menjelang menopause. Pada fase ini, produksi hormon dalam tubuh mulai berfluktuasi, sehingga memicu perubahan siklus menstruasi serta gejala fisik dan emosional.
Meski sering menimbulkan kekhawatiran, kondisi ini bukanlah penyakit, melainkan proses yang wajar dan perlu dipahami dengan baik.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kesadaran kesehatan perempuan, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor, Yantie Rachim, mengajak kaum perempuan untuk lebih mengenali dan memahami fase perimenopause secara bijak.
Ia menyampaikan bahwa perimenopause merupakan bagian dari perjalanan hidup perempuan yang tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
“Perlu kita pahami bersama bahwa perimenopause bukanlah suatu penyakit, melainkan fase alamiah dalam siklus kehidupan seorang wanita. Ini adalah proses yang wajar sebagaimana kita dahulu mengalami masa pubertas dengan menstruasi,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Health Talk: Perimenopause Tanpa Rasa Panik di Hotel Sahira, Tanah Sareal, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan, pada masa perimenopause tubuh mengalami transisi menuju tahap kehidupan berikutnya, di mana produksi hormon berfluktuasi, sehingga menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur serta munculnya gejala fisik dan emosional.
“Perimenopause adalah tanda bahwa tubuh kita sedang bertransisi menuju tahap kehidupan berikutnya. Gejala seperti perubahan emosi, mudah merasa moody, hingga kondisi fisik yang naik turun merupakan hal yang normal dialami perempuan,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa setiap perempuan dapat mengalami gejala yang berbeda, sehingga penting untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.
“Gejala yang muncul pada masa perimenopause dapat berbeda pada tiap individu. Oleh karena itu, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan yang lain, melainkan lebih fokus untuk memahami kondisi tubuh kita masing-masing,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak panik dalam menghadapi fase ini. Menurutnya, rasa cemas kerap muncul akibat kurangnya informasi yang tepat. Sehingga, edukasi kesehatan menjadi sangat penting agar dapat menyikapinya dengan tenang dan bijak.
Lebih lanjut, Yantie Rachim mengajak perempuan untuk mengalihkan kecemasan dengan kegiatan yang produktif serta membangun budaya saling berbagi informasi.
“Mari kita alihkan rasa cemas tersebut dengan kegiatan yang produktif. Selain itu, kita juga perlu membangun budaya untuk saling berbagi dan bertanya agar pengetahuan kita semakin bertambah,” pungkasnya. (***)


