SRAGEN – Proyek Kepemimpinan menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, khususnya remaja di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dalam pelaksanaan Proyek Kepemimpinan, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling PPG Prajabatan Universitas Slamet Riyadi Surakarta yang tergabung dalam kelompok 8 beranggotakan: Andhika Ariel Prasetya, Endah Setyoningtyas, Alifia Nur Fuziah, Fajar Dwi Wibowo, Anissa Ulfitrah Budiyono, Diah Fitri Khoiriyah, Amelia Ulfa, Alfiah Dewi Rahmawati, Anggi Zitna Safaah, di bawah bimbingan dosen pembimbing proyek Ahmad Jawandi, S.Pd., M.Pd. melaksanakan kegiatan bimbingan karier bertajuk "Benang Tumbuh: Menjahit Proses, Merajut Karir" bagi remaja Karang Taruna di Dukuh Nglangak.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 30 Agustus 2026 di Aula Tombo Ati H. Suyono, Dusun Nglangak RT 003/RW 001, Desa Kwangen, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, dengan sasaran anggota Karang Taruna dari jenjang SMP, SMA, hingga mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk bimbingan karier yang mengajak remaja mengenali potensi diri dan proses adaptabilitas karier melalui pendekatan yang kreatif.
Proyek tersebut disusun berdasarkan kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan karier yang selama ini kerap dianggap sebagai permasalah umum bagi masyarakat di usia remaja. Kegiatan ini berpijak pada teori career adaptability dari Mark L. Savickas melalui Career Construction Theory-nya, yang memandang perencanaan karier sebagai proses yang terus tumbuh mengikuti setiap tahap kehidupan seseorang. Materi disampaikan melalui aktivitas menjahit motif pohon meliputi akar, batang, daun, dan buah/bunga pada totebag putih, yang masing-masing bagian merepresentasikan tahapan adaptabilitas karier. "Kami ingin teman-teman remaja di Karang Taruna tidak cuma mendengar teori soal karier, tapi benar-benar merasakan prosesnya sendiri, sama seperti menjahit yang butuh kesabaran dan ketelitian sampai jadi satu hasil karya yang utuh," ujar Andhika Ariel Prasetya, selaku ketua pelaksana kegiatan.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa tidak hanya memandu peserta memahami konsep adaptabilitas karier, tetapi juga mendampingi mereka dalam proses menjahit mulai dari memilih kain, membuat pola, hingga menjahit motif pohon pada totebag secara langsung. Peserta juga diberi ruang untuk berdiskusi dan berbagi cerita mengenai rencana maupun kekhawatiran mereka terhadap masa depan.
Berdasarkan pelaksanaan kegiatan, para peserta mengikuti seluruh rangkaian dengan antusias dan aktif berpartisipasi, baik dalam sesi menjahit maupun diskusi kelompok. Kegiatan berlangsung lancar dan memperoleh respons positif dari peserta. "Acaranya seru banget, apalagi pas bagian menjahit motif pohon di totebag, ada akar, batang, daun, sampai buahnya. Dari situ jadi kebayang tahapan proses karier itu kayak gimana. Cuma semoga kedepannya waktu pengerjaannya bisa ditambah, biar hasil jahitannya bisa lebih rapi," kata Dhini Hilyati, mahasiswa yang turut menjadi peserta kegiatan.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Ketua Karang Taruna Dusun Nglangak yang akrab disapa Mas Awan. Menurutnya kegiatan ini cukup menarik dan dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak. "Sebuah kegiatan yang unik dan positif menggabungkan motorik dan emosional dalam sekali waktu, semoga kegiatan ini menjadi sesuatu yang baik bagi kedua belah pihak," ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap peserta dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai proses perencanaan karier serta lebih percaya diri dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong remaja untuk terus mempercayai proses yang mereka jalani, sebagaimana filosofi "percaya proses" yang diusung dalam kegiatan ini.
Proyek ini juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa dalam merancang dan melaksanakan kegiatan bimbingan karir secara langsung di tengah masyarakat. Selain memberikan manfaat kepada peserta, kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan merancang media bimbingan yang kreatif, berkomunikasi dengan berbagai kalangan usia, serta menerapkan teori bimbingan karir yang diperoleh selama perkuliahan.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan kesadaran remaja terhadap pentingnya perencanaan karir sejak dini semakin meningkat. Kegiatan bimbingan karier yang dilakukan secara kreatif dan berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna, diharapkan dapat membantu menciptakan generasi muda desa yang lebih percaya diri dan siap menyongsong masa depan.



