KLATEN - Hendrawan Destian Susanto, salah satu mahasiswa KKN dari Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta yang tergabung dalam Program KKN di SD Negeri Bendan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten menyelenggarakan kegiatan Penyuluhan Perlindungan Anak bagi siswa-siswi kelas 5 pada tanggal 25 Juli 2025. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga diri, menghindari perundungan, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan penuh empati.
Perlindungan anak diperkenalkan sebagai konsep dasar bahwa setiap anak berhak merasa aman, sehat, dan bahagia tanpa adanya ancaman maupun perlakuan yang menyakiti, baik secara fisik maupun emosional. Dalam kegiatan ini, siswa diajak memahami arti perlindungan, mengenali bentuk-bentuk perundungan (bullying), serta dampak yang ditimbulkannya, baik jangka pendek seperti rasa takut dan cemas, maupun jangka panjang seperti trauma, gangguan emosional, hingga depresi.
Untuk membantu anak-anak lebih mudah memahami, Hendra menyampaikan studi kasus sederhana tentang seorang anak yang menjadi korban perundungan di sekolah, namun berhasil bangkit kembali berkat dukungan guru, keluarga, dan teman-temannya. Dari kisah tersebut, siswa belajar bahwa empati, dukungan sosial, dan keberanian melapor merupakan kunci untuk melawan perundungan.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif. Anak-anak terlihat antusias ketika diminta berbagi pendapat dan pengalaman, bahkan ada beberapa siswa yang berani menceritakan perasaan mereka ketika melihat atau mengalami perundungan. Melalui diskusi yang hangat, siswa mulai menyadari bahwa mereka memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kelas yang aman, saling menghargai, dan penuh kepedulian.
Manfaat dari kegiatan ini sangat terasa. Pertama, anak-anak memperoleh pemahaman bahwa setiap bentuk kekerasan dan perundungan harus dicegah sejak awal. Kedua, mereka dilatih untuk berani berbicara, melapor, serta mendukung teman yang menjadi korban. Ketiga, siswa belajar menumbuhkan empati, toleransi, dan kebiasaan menghargai perbedaan. Hal ini menjadi bekal penting dalam membangun karakter anak yang berani, peduli, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, penyuluhan ini menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab guru atau orang tua, melainkan tugas bersama seluruh komunitas sekolah. Dengan penanaman nilai empati dan keberanian sejak dini, siswa-siswi SD Negeri Bendan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk belajar serta bertumbuh. Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah dan masyarakat luas dalam membangun budaya anti-perundungan, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, percaya diri, dan berkarakter positif.


