BANTUL - Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, terus memperkuat perannya dalam pembangunan berbasis masyarakat melalui kerja sama sister province antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan. Kerja sama tersebut diimplementasikan melalui pendampingan Saemaul Foundation bersama Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia (YGSI), dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan ketahanan pangan lokal.
Salah satu wujud konkret dari kerja sama ini adalah rencana pembangunan Lumbung Mataraman di Kalurahan Muntuk. Lumbung Mataraman tidak hanya dirancang sebagai tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga sebagai pusat edukasi, produksi, dan penguatan budaya pangan lokal yang dikelola secara partisipatif oleh masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Saemaul Undong, sebuah model pembangunan pedesaan asal Korea Selatan yang menekankan nilai kerja keras, swadaya, dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut dipadukan dengan kearifan lokal masyarakat Muntuk yang telah lama menjunjung semangat gotong royong.
Sebagai bagian dari rangkaian kerja sama tersebut, Pemerintah Kalurahan Muntuk bersama Pemerintah Kabupaten Bantul, YGSI, dan perwakilan Saemaul Foundation telah melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi program, pemetaan potensi lokal, hingga pembahasan masterplan pembangunan Lumbung Mataraman. Kegiatan ini melibatkan perangkat kalurahan, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta pelaku UMKM setempat.
Kalurahan Muntuk dinilai memiliki potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai desa percontohan, mengingat karakteristik wilayahnya yang didominasi sektor pertanian, kerajinan bambu, serta kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Melalui kerja sama sister province ini, diharapkan potensi tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kalurahan Muntuk berperan sebagai penghubung antara mitra internasional dan masyarakat desa. Pemerintah kalurahan mengoordinasikan kegiatan, memfasilitasi musyawarah di tingkat padukuhan, serta memastikan bahwa program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.
Mahasiswa magang dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Slamet Riyadi Surakarta turut terlibat dalam proses pendampingan dan dokumentasi kegiatan. Keterlibatan mahasiswa ini menjadi bagian dari pembelajaran praktik mengenai bagaimana kerja sama internasional di tingkat daerah—atau paradiplomasi—dapat diimplementasikan hingga menyentuh level desa.
Ke depan, pembangunan Lumbung Mataraman diharapkan menjadi simbol sinergi antara kerja sama internasional, kebijakan daerah, dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kemandirian desa. Pemerintah Kalurahan Muntuk optimistis bahwa program ini dapat menjadi contoh praktik baik pembangunan desa berbasis kolaborasi lintas negara yang berkelanjutan.


