KLATEN - Permasalahan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan masih menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian di pedesaan. Ketergantungan terhadap pupuk anorganik tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya produksi, tetapi juga menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang. Melihat persoalan tersebut, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 38 Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta hadir dengan membawa solusi ramah lingkungan melalui program kerja bertajuk “Solusi Hijau untuk Pertanian Berkelanjutan Melalui Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 19 Agustus 2025 di Gedung Posyandu Desa Blimbing, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. Sasaran utama kegiatan adalah bapak-bapak kelompok tani dan peternak yang sehari-hari mengelola lahan pertanian serta memelihara ternak, sehingga secara langsung bersinggungan dengan permasalahan ketersediaan pupuk maupun limbah peternakan.
Sebagai narasumber, hadir tiga mahasiswa KKN 38 UNISRI, yaitu David Trita Perdana, Septiana Anggun Susilowati, dan Andika Yanuar Saputra. Mereka menyampaikan materi secara bergantian dengan pembahasan yang runtut dan mudah dipahami. David membuka penyuluhan dengan menjelaskan konsep dasar mengenai pupuk organik cair, mulai dari definisinya, perbedaan dengan pupuk kimia, hingga manfaat jangka panjang yang dapat dirasakan oleh tanah, tanaman, dan hasil panen. Menurutnya, POC bukan sekadar alternatif, tetapi juga solusi nyata untuk mendukung praktik pertanian berkelanjutan.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Andika yang menekankan pada potensi besar limbah kotoran sapi yang selama ini hanya menumpuk dan kurang termanfaatkan. Ia menjabarkan bahwa kotoran sapi sebenarnya kaya akan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Apabila dikelola dengan tepat, limbah tersebut bukan hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat diubah menjadi sumber pupuk organik yang bernilai guna tinggi.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Anggun yang menjelaskan langkah-langkah praktis pembuatan POC. Ia memaparkan bahan-bahan yang dibutuhkan, takaran yang sesuai, serta tahapan fermentasi hingga pupuk siap digunakan. Tidak berhenti pada teori, Andika juga memandu demonstrasi langsung pembuatan POC di hadapan peserta. Para petani dan peternak diajak untuk memperhatikan setiap proses, mulai dari pencampuran kotoran sapi dengan bahan tambahan, pengadukan, hingga penyimpanan dalam wadah tertutup. Demonstrasi ini menjadi daya tarik utama karena peserta dapat melihat secara nyata bahwa pembuatan pupuk organik cair bisa dilakukan dengan cara sederhana, murah, dan tidak membutuhkan peralatan yang rumit.
Antusiasme para peserta terlihat sepanjang kegiatan. Banyak di antara mereka yang aktif bertanya dan berdiskusi, terutama ketika sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan yang muncul sangat beragam, mulai dari durasi fermentasi yang ideal, cara mengatasi bau yang ditimbulkan selama proses pembuatan, hingga dosis penggunaan pupuk pada berbagai jenis tanaman. Semangat tersebut menunjukkan bahwa para petani dan peternak benar-benar serius ingin memahami dan mengadopsi metode ini untuk diterapkan dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Kegiatan ini tidak hanya memberi pengetahuan praktis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pertanian berkelanjutan harus dimulai dari pengelolaan sumber daya lokal. Dengan adanya inovasi seperti POC, petani di Desa Blimbing diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya cenderung fluktuatif. Selain lebih hemat biaya, penggunaan POC juga terbukti menjaga kesuburan tanah dan ramah terhadap lingkungan.
Program kerja ini sekaligus menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa KKN UNISRI Surakarta dalam mendukung pembangunan pedesaan. Melalui kegiatan sosialisasi, demonstrasi, dan pendampingan, KKN tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk berinovasi dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Harapannya, Desa Blimbing dapat menjadi contoh penerapan pertanian hijau yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.


