PENDIDIKAN

Pengelolaan Sampah Anorganik Jadi Fokus Utama Program Kerja KKN Kelompok 71 Unisri di Dukuh Kenatan

Heri Suprayogi
26 Agustus 2025, 14.19 WIB Last Updated 2025-08-26T07:28:21Z
masukkan script iklan disini

 


KLATEN - Sampah masih menjadi salah satu persoalan utama di lingkungan pedesaan maupun perkotaan. Volume sampah yang terus meningkat, terutama sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kaleng, seringkali menimbulkan masalah pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Menyadari hal ini, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 71 Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta yang melaksanakan kegiatan di Dukuh Kenatan, Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, menjadikan “Pengelolaan Sampah Anorganik (Bank Sampah)” sebagai salah satu program kerja unggulan mereka pada tahun 2025. (26/8/2025)


Kehidupan masyarakat modern saat ini tidak bisa dilepaskan dari penggunaan produk sekali pakai, terutama plastik. Meski praktis, keberadaan sampah plastik yang tidak terurai menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Di wilayah pedesaan, permasalahan sampah sering dianggap sepele karena sebagian besar masyarakat masih memiliki lahan untuk membuang atau membakar sampah. Padahal, cara tersebut justru berdampak buruk terhadap kualitas udara, tanah, dan kesehatan masyarakat.


Melihat kondisi tersebut, kelompok KKN 71 Unisri berinisiatif untuk menghadirkan solusi berbasis masyarakat melalui program Bank Sampah. Program ini tidak hanya menekankan aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga mengedepankan nilai edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN 71 memiliki beberapa tujuan utama yang ingin dicapai, yaitu:


1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah, khususnya sampah anorganik.


2. Memberikan edukasi terkait pemilahan, pemanfaatan ulang, dan daur ulang sampah non-organik.


3. Mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik dan anorganik lainnya.


4. Menumbuhkan kebiasaan membuang sampah secara bijak dan bertanggung jawab.


Tujuan tersebut menjadi landasan pelaksanaan program agar kegiatan yang dilakukan tidak berhenti hanya pada masa KKN, melainkan dapat berkelanjutan dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat Dukuh Kenatan, Desa Ngawen.


Pelaksanaan program Bank Sampah di Dukuh Kenatan Desa Ngawen dilakukan melalui beberapa tahapan: 


Pertama, mahasiswa KKN 71 melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga mengenai jenis-jenis sampah serta cara pemilahannya. 


Kedua, Warga diajak untuk mengenali perbedaan antara sampah organik dan anorganik, serta pentingnya memilah sampah sejak dari rumah tangga.


Ketiga, mahasiswa mendampingi masyarakat untuk membentuk Bank Sampah Desa yang menjadi wadah pengumpulan sampah anorganik. 


Sampah yang terkumpul nantinya akan ditimbang, dicatat, dan dikonversikan menjadi nilai tabungan atau bahkan dijual kembali ke pihak pengepul.


Manfaat Program: Program Bank Sampah ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi. Beberapa manfaat yang dirasakan maupun diharapkan dari program ini antara lain:


1. Lingkungan desa menjadi lebih bersih dan sehat, karena sampah tidak lagi menumpuk di sembarang tempat.


2. Masyarakat lebih peduli dan terlibat dalam pengelolaan sampah, sehingga tercipta budaya gotong royong dalam menjaga kebersihan.


3. Sampah anorganik bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan kerajinan atau dijual ke pengepul, sehingga bernilai ekonomi.


4. Meningkatkan potensi ekonomi dari pengelolaan limbah rumah tangga, yang dapat menambah pendapatan masyarakat.


Dengan adanya manfaat ini, program kerja mahasiswa KKN tidak hanya sekadar bersifat akademis, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.


Selama pelaksanaan program, mahasiswa KKN 71 mendapat sambutan positif dari warga Dukuh Kenatan Desa Ngawen. Para ibu rumah tangga terlihat antusias mengikuti sosialisasi pemilahan sampah, sementara pemuda desa turut aktif membantu proses pengumpulan sampah dan pembuatan kerajinan. Aparat desa juga mendukung penuh inisiatif mahasiswa karena sejalan dengan program desa yang berfokus pada kebersihan dan kesehatan lingkungan.


Menurut salah satu mahasiswa peserta KKN, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “Kami berharap setelah KKN berakhir, masyarakat tetap menjalankan pengelolaan Bank Sampah ini secara mandiri. Dengan begitu, desa tidak hanya menjadi lebih bersih, tetapi juga lebih produktif,” ujarnya.


Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi titik awal bagi warga Dukuh Kenatan di Desa Ngawen untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Jika Bank Sampah dapat berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Dukuh Kenatan di Desa Ngawen bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain Kecamatan Ngawen maupun Kabupaten Klaten.


Selain itu, dengan adanya tambahan nilai ekonomi dari hasil pengelolaan sampah, masyarakat dapat lebih termotivasi dalam menjaga kebersihan lingkungannya. Ke depan, diharapkan juga ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah maupun lembaga swasta untuk memperluas manfaat program ini.


Program kerja “Pengelolaan Sampah Anorganik (Bank Sampah)” yang dilaksanakan oleh kelompok KKN 71 Universitas Slamet Riyadi Surakarta tahun 2025 di Dukuh Kenatan, Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan dalam dunia akademis, tetapi juga mampu hadir sebagai pelopor perubahan di tengah masyarakat.


Dengan tujuan meningkatkan kesadaran, mengurangi pencemaran lingkungan, hingga membuka potensi ekonomi dari sampah anorganik, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa permasalahan sampah bisa diatasi jika ada kerja sama antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa. Lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif kini bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan bisa diwujudkan melalui langkah - langkah kecil yang konsisten.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Politik

+