Oleh: Kartosuwiryo
SOLO - Dimulai dengan satu filosofi anget seanget telek pitik, telek pitik ini sering digunakan sebagai simbol tidak konsisten dan sebentar ada sebentar hilang. Mungkin yang paling masyhur buat kita adalah ungkapan “semangat telek pitik” awalnya semangat lalu melempem seperti kerupuk seblak.
Apa kabar kawan-kawan? tetap dan senantiasa sumringah ditengah krisis global dan tersenyum walau dilanda ujian seumur hidup, jadi WNI misalnya.
Ekonomi negeri lagi demam yaa? Ekonomi swasta gimana? Udah muncul tagihan lagi di Edlink/Siakad kalian? Semoga dimudahkan dalam segala urusan, disegerakan semua impian dan diijabah anything permohonan.
Ngomongin soal kampus IIM tercinta, sepertinya ada pitik yang gagal diusir sebelum nelek di kursi para pimpinan kampus ya, terbukti dari hasil audiensi beberapa waktu lalu dan kalender akademik kampus yang eca-eco (inkomitmen) tentang hari wisuda, yang sebelunya dijadwalkan tanggal 1 Juli 2026 tiba-tiba berubah 12 Agustus 2026. Kacaw gasih, kacaw mania.
Mari kita amati dari beberapa perspektif, diantaranya: alasan mengapa terjadi penundaan wisuda, pihak kampus mengatakan diundur karena “mahasiswa yang mendaftar baru sedikit kak”. Kalau memang begini faktanya, mari kita analisa mengapa bisa momen yang paling ditunggu dalam masa studi kok sedikit pendaftarnya! Siapa yang pantas dievaluasi?
- Fakta: Mahasiswa terlambat wisuda karena tidak mengetahui informasi pendaftaran wisuda.
- Masalah: Informasi wisuda memiliki tingkat kelangkaan yang hampir setara dengan sinyal saat listrik padam.
- Penyebab: Sistem komunikasi kampus masih mengandalkan prinsip "yang rajin mencari akan menemukan", sementara kampus lupa bahwa tugas penyedia informasi bukan menjadi teka-teki berhadiah.
- Dampak: Mahasiswa yang sudah menyelesaikan skripsi masih harus menyelesaikan misi tambahan: mencari informasi wisuda yang hilang.
- Solusi: Membangun sistem informasi yang tidak hanya pintar mengunggah pengumuman, tetapi juga pintar memastikan pengumuman dibaca.
- Strategi Gerakan: Mendorong evaluasi layanan informasi akademik, memperkuat kanal komunikasi resmi, serta mengawal kebijakan yang berpihak pada kemudahan akses informasi mahasiswa.
Begitu kurang lebih kalau dikaji menggunakan analisis sosial, fakta ini didapatkan dari group whatsapp yang dibuat oleh mahasiswa untuk mahasiswa yang beranggotakan lebih dari 300 member didalamnya, tetapi dari sudut pandang yang lain menggambarkan kecacatan informasi ini dipicu karena oma opa berusia senja didalam pimpinan kampus, sehingga menimbulkan sistem tata kelola monoton, tidak inovatif dan kuno.
Harapan besar kami sampaikan teruntuk para petinggi pimpinan kampus telek pitik ini untuk melek dan sadar serta mempercayakan sesuatu kepada yang muda dan berkompeten dibidangnya. Ini tentu saja bukan hanya keinginan penulis belaka, akan tetapi dan tentu keinginan kita semua untuk memajukan almamater Mambaul Ulum.


